Posted in 2NE1, Bigbang, CL, Fanfiction, G-Dragon, Kpop, Taeyang

[Fanfiction] Lost Chapter 1

Lost Chap1

Chapter 1: An Unforgettable Meeting

 

Minggu pagi ditengah pusat perbalanjaan terbesar di Seoul Chaerin terlihat tersesat ;melihat kesana-kemari mencari seseorang yang munkin ia kenali namun gagal ia tak dapat menemukan siapapun yang ia kenal. Matanya mulai berair dan memerah, ia hanya bisa berdiri terpaku –melihat kedua ujung sepatunya di atas lantai marmer, ditengah kerumunan orang yang silih berganti melewatinya begitu saja. Ia mulai bertanya-tanya untuk apa sebenarnya ia berad disana ;ditengah-tengah kerumunan orang asing yang terlalu sibuk untuk mempedulikannya.

Chaerin melihat sepasang sepatu yang menarik perhatiannya berjalan melewatinya denagn pemiliknya, ia menyukai sepatu itu dan saat menggangkat kepalanya ia melihat punggung seorang pria dengan setelan bergaya Hip-Hop ;kaos tanpa lengan dan celana pendek yang dipakai terlampau turun atk lupa topi yang dipasang terbalik di atas kepalanya. Pria itu berjalan dengan penuh percaya diri seolah-olah dunia ini adalah milikya seorang, Chaerin iri padanya. Ia menghela nafas, menggenggam tali tasnya hendak berjalan perg saat ia menyadari sesuatu di lantai –sebuah kartu berwana hitam tergeletak di lantai dan hampir di injaknya.

Ia menatapnya untuk beberapa saat sebelum memutuskan untuk mengambilnya –membolak-balik benda itu menyelidiki setiap ujungnya saat ia menemukan sebuah nama tercetak dengan warna emas di balik kartu itu. ‘Taeyang’ itulah yang tertulis disana, terlihat begitu elegant nan mewah berdampingan dengan beberapa logo yang sebagian ia kenal. Butuh beberapa waktu untuk Chaerin menyadari jika benda itu adalah sebuah ATM, ia baru ingat pernah mendengar tentang blackcard ;sebuah ATM yang tak memiliki batas pemakaian dan bisa digunakan dimana saja. ‘pemiliknya pasti sangat kaya.’ Pikirnya.

“Aku harus mengembalikannya kan?” Tanyannya entah pada siapa namun entah kenapa wajahnya menjadi begitu khawatir. Ia menghela nafasnya lagi, ia sungguh ingin mengembalikannya tapi sesuatu menghalanginya untuk pergi, sesuatu di belakang kepalanya yang berteriak untuk segera keluar dari tempat itu dan itu menang.

Ia baru saja akan menjatuhkan kembali kartu itu saat seseorang entah datang dari mana menangkap tangannya dan mengambil kartu itu dari tangan Chaerin dengan tanganya yang lain. Chaerin mengangkat kepalanya –pria yang tadi berjalan melewatinya menatapnya dengan malas, ia segera menarik tanganya melapaskanya dari tangan pria dihadapannya lantas ia melangkah mundur beberapa langkah.

“Gomawo.” Ujar pria itu dan pergi begitu saja, meninggalkan Chaerin yang sekali lagi hanya bisa berdiri terpaku melihat punggung pria itu semakin menjauh darinya.

Sebulir air mata jatuh menuruni pipinya. “Benar semua orang selalu meninggalkannya sendirian di belakang.” Gumannya, menyeka air matanya dan mengabil langkah besar mennjauh dari semua orang.

~

Itu hari pertama Chaerin masuk sekolah setelah beberapa bulan, Chaerin berjalan begitu pelan menuju kelasnya membuatnya tertinggal bahkan oleh murid yang baru saja datang, mereka silih berganti mendahuluinya meski ada beberapa yang menatap kearahnya dan berbisik-bisik dengan temannya. Itu membuat Chaerin semakin memperlambat jalannya hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan pintu menuju kelasnya, ia hanya menatap kedua sepatunya yang hanya berjarak beberapa centi dari pintu.

Chaerin hanya terus meremas rok seragamnya dengen kedua tangannya yang berkeringat. Ia sangat ingin berlari kembali kerumah dan menyembunyikan dirinya di balik selimut tebalnya tapi itu tidak bisa ia lakukan, ia tak seharusnya membuat orang-orang rumah semakin khawatir padanya.

Chaerin melepaskan salah satu tangannya dan mengusap-usap tangan berkeringatnya di seragamnya saat sebuah tangan yang terlihat begitu kuat menrobos melewati ketiak Chaerin dan membuka pintu kelasnya tanpa peringatan. Semua murid didalam kelas langsung terdiam dan menatap kearahnya.

“Kau tidak akan masuk?” tanya sebuah suara yang tak asing. Ia baru menyadari tangan itu masih berada diantara tangan dan badanya.

Chaerin melangkah maju dan berbalik untuk melihat siapa itu. Dia pria yang kemarin baru saja ia temui selama beberapa menit dan sekarang pria itu memakai seragam yang sama dengannya –tapi tentunya ia memakai celana dari pada rok sepertinya.

Pria itu berjalan melewatinya begitu saja dan anak-anak mulai berbisik-bisik mengenai pemandangan baru mereka. Beberapa anak berdiri dari kursinya dan mendekati Chaerin, Bom dan Dara memeluknya.

“Chaerinie, kami sangat merindukanmu.” Ujar Dara menatapnya, tatapan yang beberapa bulan belakangan selalu ia dapatkan.

“Seharusnya kau menemui kami saat kami berkunjung.” Begitu juga Bom yang tak begitu berbeda.

“Maaf.” Hanya itu yang mampu Chaerin katakan sebelum melepaskan dirinya dari kedua temannya dan berjalan menuju ke tempat duduk yang kosong –tepat disebelah pria yang sebelumnya. Tapi Chaerin tak langsung duduk disana dan hanya memandangi kursi itu.

“Hei Chae duduklah.” Ujar Seungri -anak yang duduk didepan. “Kurasa ini juga hari pertamanya di sini.” Lanjutnya menatap pria itu tak suka.

“Lagi pula disana itu adalah tempat dudukmu.” Ujar Hanbin –anak yang duduk di sebelah Seungri.

Chaerin menghela nafasnya. “Gomawo.” Ujarnya pada Seungri dan Hanbin dan duduk di kursi itu, meletakan tasnya diatas meja. “Kau anak baru?” tanyanya menatap pria disebelahnya.

Pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Namamu Taeyang?” Tanya Chaerin canggung.

Sekali lagi dia hanya mengangguk sebagai jawaban.

Chaerin mulai merasa jika pria itu tak begitu ingin mengobrol dengannya. “Maaf jika aku mengganggu.” Ujarnya, pria itu mengambil ponsel dari sakunya dan mulai memainkannya tanpa menjawab Chaerin.

Untuk pertama kalinya Chaerin merasakan hal lain selain rasa sakit meskipun itu juga merupakan hal negatif. Pria itu menyebalkan, itulah hal yang memenuhi otaknya.

Pelajaran dimulai setelah acara perkenalan membosankan dari anak baru bernama Taeyang yang duduk disebelah Chaerin juga sambutan hangat dari guru padanya dan ia sangat membencinya entah kenapa.

Selama pelajaran Chaerin terus terusan menatap kearah Taeyang yang secara mengejutkan memperhatikan pelajaran dengan serius, meskipun wajahnya tak menunjukan ekspresi sama sekali dan itu entah kenapa membuatnya semakin merasa jika anak itu menyabalkan karena entah kenapa pula Chaerin merasa anak itu adalah anak yang pintar.

“Ini sekolah, tolong gunakan matamu untuk melihat ke papan tulis saat pelajaran berlangsung.” Ujarnya, Chaerin benar dia menyebalkan. Sangat menyebalkan.

Ia mengembungkan kedua pipinya dan berpura-pura melihat kearah lain sambil membolak-balik buku catatanya mencoret-coret asal bukunya.

“Papan tulisnya ada di depanmu.” Ujarnya lagi dan Chaerin mengutuk dirinya dengan keras di dalam hati.

~

Jam istirahat, Chaerin memilih untuk pergi ke toilet dan bersembunyi disana sebelum teman-temannya mengajak untuk pergi ke kantin dan makan bersama. Ia sangat tau apa saja yang akan mereka bicarakan dan Chaerin sudah terlalu lelah untuk mengingat hal hal itu. Sayangnya diperjalanan menuju toilet tanpa sengaja seseorang menabraknya membuat keduanya jatuh ke lantai, dia orang yang belum pernah ia lihat. ‘Banyak sekali yang kulewatkan.’ Batinnya.

Pria itu berdiri dan membungkuk pada Chaerin lantas mengulurkan tangannya. “Maaf, aku sedang terburu-buru.” Ujarnya saat Chaerin menyambut tangannya dan pria itu menariknya untuk berdiri.

Chaerin membungkuk pada pria itu. “Tidak apa-apa, kau mau ke kelas 1-4?”

“Iya kau baru keluar dari sana, apa benar ada anak baru disana?” tanya pria itu terburu-buru.

Chaerin menganggukan kepalanya.

“Gomawo.” Ujarnya, membungkuk sekilas lalu berlari menuju ke kelas Chaerin.

Chaerin menghela nafas, menaikan bahunya dan kembali berjalan menuju toilet -sekarang dia terdengar seperti sangat merindukan toilet sekolahnya. Didalam toilet ia duduk didalam salah satu kabin namun tiba-tiba ia mendengar beberapa orang masuk dan ia segera menaikan kedua kakinya keatas toilet -memeluk lututnya erat.

Chaerin bisa mendengar mereka tertawa sambil membicarakan sesuatu, terdengar begitu menyenangkan tapi saat namanya tiba-tiba disebut ia menarik kembali ucapannya dan mendengarkan lebih seksama.

“Kenapa si Chaerin itu harus masuk bersamaan dengan anak baru itu? Ah itu membuatku kesal saat dia hanya memandangi kursinya di sebelah anak itu.”

“Aku tau, itu sangat menyebalkan bukan? Apalagi saat didepan pintu tadi.”

“Auhgh itu terlihat sangat romantis, aku iri.”

“Tapi kalian lihat tidak saat Dara dan Bom memeluknya? Ekspresinya membuatku ingin muntah.”

“Hey tapi bagaimanapun juga dia baru saja kehilangan keluarganya, tidakkah kau pikir kata-katamu itu sedikit keterlaluan.”

“Yah apa maksudmu? Aku sudah menahan diri sejak tad, jika saja itu tak terjadi padanya sudah kujambak rambut tadi.”

“Kalian dengar itu?” ujar salah satunya.

Itu Chaerin yang mulai terisak di dilam kabin, ia sudah begitu keras mencoba menutup mulutnya tapi suara yang tak ia inginkan untuk terdengar itu terlalu kuat salah satu diantara mereka terdengar membuka pintu kabin disebelahnya saat seseorang terdengar terburu buru membuka pintu dan yang lainnya berteriak.

“YAH APA YANG KAU LAKUKAN??” pekik salah satunya sebelum pintu terdengar kembali tertutup kali ini dengan kasar.

“Hoel apa itu tadi?”

“Ayo lebih baik kita keluar sekarang!” ujar salah satu dan mereka pun akhirnya meninggalkan toilet.

Kini Chaerin tak menahannya lagi dan menangis, megeluarkan seluruh isi hatinya.

Kelas sudah dimulai kembali beberapa menit yang lalu tapi Chaerin belum juga terlihat membuat Bom dan Dara terus-terusan melihat kearah pintu kelas dengan khawatir, meski begitu mereka tau Chaerin mungkin masih membutuhkan waktu begitu pula para guru memikirkan hal yang sama karena itu guru yang tengah mengajar tak menanyakan tentangnya saat melihat kursinya kosong.

Tak lama kemudian Chaerin masuk dan meminta maaf pada guru karena terlambat, guru hanya tersenyum dan langsung menyuruhnya untuk duduk dibangkunya. Chaerin menatap teman sekelasnya, mereka semua memasang senyum yang amat dipaksakan kecuali satu orang yang sekilas seperti menatap tajam kearahnya tapi bukan dia hanya sedang melihat papan tulis dan sesekali mencatat di bukunya.

Chaerin duduk dikursinya dan kembali menatap Taeyang entah untuk yang keberapa kalinya. Tapi kali ini dia tak berkomentar apa-apa dan hanya menghela nafasnya saat Chaerin sudah terlalu lama tak mengalihkan pandangan darinya.

“Maaf.” Guman Chaerin pelan, mengalihkan pandangannya dan hanya menatap mejanya.

“Lain kali lebih baik ikut aku saat jam istirahat.” Saut Taeyang dan itu kembali membuat Chaerin menatapnya. Ia yakin melihat orang itu tersenyum meskipun hanya sepersekian detik tapi Chaerin yakin ia melihatnya tersenyum dan itu entah kenapa membuatnya merasa hangat.

Pelajaran berjalan dengan cepat sementara Chaerin tak dapat mengalihkan pikirannya dari teman yang duduk disebelahnya, setiap beberapa waktu menatap temannya itu –meneliti setiap garak-geriknya yang terlampau tenang dan seolah tak menghiraukannya sama sekali. Pria berwajah datar itu hanya memperhatikan pelajaran yang bahkan tak bisa memasuki kepala Chaerin yang entah kenapa mendadak penuh, suara gurunya yang menerangan dengan keras didepannya pun terdengar samar dan tak jlas ditelinganya bahkan ia terperanjak kaget saat Taeyang mendadak berdiri dari kursinya.

Chaerin mengalihkan pandangannya ke sekitarnya saat ia menmukan yang lainya sedang sibuk memasukan barang-baraangnya kedalam tas masing-masing ;bersiap-siap untuk segera pulang. Ia hanya bisa berkata didalam hati ‘apa yang sebenarnya sedang kupikirkan?’ lantas membereskan barang-barangnya dan keluar dari kelas dengan cepat berusaha menghindari yang lain.

Chaerin berjalan dengan terburu–buru menuju gerbang utama sekolah saat ia melihat pintu menuju teater sedikit terbuka dan ia dapat mendengar suara piano memainkan sebuah orchestra yang pernah ia dengarkan bersama orangtuanya saat kecil ; Beethoven – Sonata No. 15 in D major, Op. 28, namun dengan beberapa inprovisasi sehingga membuatnya terdengar lebih hidup dengan ritme yang lebih cepat. Chaerin dapat membayangkan bagaimana cepatnya tangan pemain piano itu menakan tuts demi tuts dengan jari-jarinya dan itu membuatnya penasaran dan mengimtip kedalam.

Chaerin tak menemukan siapapun didepan Grand piano yang terletak di sisi kanan bawah panggung melainkan seseorang yang duduk di tengah-tengah panggung –memegang sebuah gitar akustik dipangkuannya. Dia adalah anak yang sebelumnya bertabrakan dengannya saat jam istirahat tapi entah kenapa wajahnya begitu sedih dan kesepian, benar-benar berbeda dengan dia yang sebelumnya tersenyum dengan lebar pada Chaerin. Kini raut wajahnya benar-benar mencerminkan dirinya beberapa bulan terakhir.

Chaerin memutuskan untuk masuk dan duduk di salah satu kursi teater saat anak itu mulai memainkan jari-jari pucatnya diatas senar gitar yang sederi tadi ia pegang. Ia beusaha mengikuti nada piano yang keluar dari ponselnya yang tergeletak tepat disebelahnya, memainkan sebuah video dimana didalamnya seseorang pria yang membelakangi kamera tengah meainkan piano didalam sebuah teater megah bergaya Eropa kuno, terlihat gagah dibalut tuxedo hitamnya.

Semakin lama Chaerin mendengarkannya, itu mulai terdengar seperti duet dan entah kenapa Chaerin menikmatinya. Ia bertepuk tangan dengan keras dan berdiri dari kursinya saat musik sepenuhnya telah berhenti dan anak itu segera mengangkat wajahnya, mencari-cari dari mana asalnya tepuk tangan itu dan saat ia menemukan Chaerin ia tersenyum lemah padanya.

Mata mereka saling bertemu dan Chaerin seolah menatap cermin, tatapan matanya tak jauh berbeda darinya bahkan entah kenapa terlihat lebih menyedihkan dri miliknya sekarang. Yang bisa Chaerin lihat hanyalah penyesalan dan rasa sepi yang perlahan-lahan menggerogoti jiwanya, Chaerin merasa sedih hanya dengan melihatnya dan untuk beberapa alasan Chaerin membenci dirinya sendiri karena ia tahu benar apa yang sedang ia pikirkan. Ia merasa kasihan pada anak itu, hal yang membuatnya merasa sangat muak terhadap setiap orang yang ia temui beberapa bulan belakangan ini.

.

.

Tbc…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s